Laman

Sabtu, 30 Juli 2011

MALAIKAT MUQORROBIN


Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah : 255
“WASI’A KUR SIYYUHUS SAMAAWAATI WAL ARDHO”
Artinya : “Kursinya meliputi langit dan bumi”.

Satu pendapat menjelaskan bahwa Kursinya adalah kiasan dari ilmu-Nya, pendapat yang lain mengatakan bahwa Kursi-Nya merupakan kerajaannya.

Diriwayatkan dari Sayyidina Ali, sesungguhnya Kursi adalah berupa mutiara (lu’lu) yang panjangnya tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah SWT.

Di sebutkan dalam sebuah Hadits, “Tiada semua langit dan bumi yang tujuh dengan Kursi Allah kecuali sebuah bundaran dalam padang yang sangat luas”.

Ibnu Majah meriwayatkan, “Sesungguhnya semua langit ada dipertengahan Kursi, sedang Kursi di muka Arsyi”.

Dari Ikrimah, dia berkata, “Matahari adalah sebagian dari tujuh puluh bagian cahaya Kursi sedang Arsyi adalah sebagian dari tujuh puluh bagian dari sahaya satir-satir, yakni hijab-hijab (penghalang-penghalang)”.

Datang riwayat bahwa sesungguhnya di antara malaikat-malaikat pemikul Arsyi dan malaikat-malaikat pemikul Kursi terdapat tujuh puluh hijab dari kegelapan dan tujuh puluh hijab lagi dari cahaya. Setiap hijab dengan yang lain terdapat jarak lima ratus tahun perjalanan. Seandainya tidak ada semua itu tentu terbakarlah pemikul Kursi dari cahaya pemikul Arsyi itu.

Arsyi adalah jisim yang berupa Nur dan merupakan alam atas di atas Kursi. Jadi dia bukanlah Kursi itu, berbeda dengan pendapat Hasan Basri. Dikatakan, dia adalah Yaqut merah, dari mutiara hijau dan putih. Dan dikatakan pula dari Nur atau cahaya.

Orang-orang ahli falak (perbintangan) menyebutnya dengan falak kesembilan, falak yang tertinggi, falak dari seluruh falak dan falak paling atas. Artinya yang tidak memakai bintang-bintang. Sebab semua bintang berada di dalam falak yang kedelapan menurut ahli perbintangan kuno dan disebut falak buruk (cakrawala bintang-bintang). Tetapi menurut Syara ( agama) di namakan dengan Kursi.

Arsyi merupakan atap bagi semua makhluk, maka tidak akan ada sesuatu yang keluar dari daerahnya. Jadi dia merupakan batas akhir dari pengertian hamba-hamba ini. Tidak ada lagi lapangan bagi penemuan akal di belakangnya dan tidak ada tempat tujuan bagi orang-orang yang menginginkannya.

Ibnu Abbas berkata, “Setelah Allah menciptakan malaikat-malaikat pemikul Arsy, berfirman lah ALLAH SWT kepada mereka. “Pikullah arsyi-Ku”. Tetapi mereka tidak kuat, lalu Allah menciptakan bersama setiap orang dari mereka sebanyak malaikat-malaikat di langit yang ketujuh. Allah berfirman lagi. “Pikullah arsyi-Ku”. Tetapi masih saja mereka tidak kuat memikulnya. Maka Allah menciptakan lagi bersama setiap mereka sebanyak malaikat di langit dan sebanyak makhluk di bumi dan Allah berfirman. “Angkatlah arsy-Ku”. Mereka tidak kuat untuk mengangkatnya, kemudian Allah berfirman. Bacalah ” LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH".

Setelah mereka membaca itu dapatlah mereka memikulnya. Akan tetapi terbenamlah kaki mereka ke dalam bumi yang ketujuh pada dasar angin. Setelah kaki mereka tidak dapat berpijak pada sesuatu bergantunglah mereka pada Arsyi dan tidak henti-hentinya mereka membaca LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAH, khawatir salah seorang dari mereka bergeser dan tidak tahu kemana dia akan jatuh.

Jadi mereka adalah pemikul-pemikul Arsyi dan Arsyi –Pun memikul mereka serta semuanya dipikul dengan kekuatan Allah.

Diriwayatkan. “Barang siapa yang apabila di waktu pagi dan sore hari membaca :

“HASBIYALLAH LAA ILAA HA ILLA HUWA ‘ALAIHI TAWAKKALTU WA HUWA ROBBUL ‘ARSYIL ‘ADZIIM”

Artinya : “Yang maha mencukupi adalah Allah, tiada Tuhan selain Allah. Dan Allah adalah Tuhan Arsyi yang besar”.

BACALAH AYAT DIATAS SEBANYAK TUJUH KALI, MAKA ALLAH SWT AKAN MENCUKUPI ORANG YANG ISTIQOMAH MEMBACANYA DI DALAM HAL YANG MENJADI KEPENTINGANNYA. DI DALAM SEBUAH RIWAYAT DISEBUTKAN “ALLAH AKAN MENCUKUPINYA DALAM KEPENTINGANNAYA, BAIK URUSAN DUNIA MAUPUN URASAN AKHIRAT”.

Tidak ada komentar: